Tim EWS UGM Ciptakan Alat Deteksi Gempa 3 Hari Sebelum Kejadian

by - Juli 02, 2021

 

Ilustrasi, sumber foto: ANTARA

DIAMOND QQKetua Tim Peneliti Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/ EWS) UGM, Sunarno, mengatakan alat pendeteksi gempa yang dikembangkan timnya telah mendeteksi gempa di Toli-Toli, Sulawesi Tengah tiga hari sebelum kejadian.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sabtu (29/5) lalu pukul 08.25.14 WIB kawasan Toli-Toli diguncang gempa tektonik dengan magnitudo 5,3. Pusat gempa berada di laut pada jarak 87 kilometer sebelah barat Kota Toli-Toli pada kedalaman 27 kilometer.

Prediksi gempa tiga hari sebelum kejadian

Sunarno mengatakan alat pendeteksi gempa telah memprediksi gempa tiga hari sebelum kejadian. Meski berhasil memprediksi gempa, alat ini terus dikembangkan. Bahkan, di DIY sendiri alat ini mampu memprediksi 3-7 hari sebelum gempa.

“Pengalaman selama ini kami baru dapat memprediksi 3 hari sebelum gempa dengang lokasi antara Aceh hingga NTT.  Algoritma awal kami hanya mendeteksi dini 3 sampai 7 hari sebelum gempa khusus untuk DIY. Mengingat stasiun pemantau kami hanya ada di DIY, " kata Sunarno, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis (3/6/2021).

Teknologi triangulasi dapat memprediksi posisi pusat gempa

Menurut Sunarno, alat yang saat ini sedang dikembangkan adalah teknologi triangulasi sehingga bisa memprediksi posisi pusat gempa lebih presisi. Selama proses penelitian dan pengembangan, alat ini selalu mampu memprediksi kejadian gempa secara akurat.

“Selalu cocok, sudah dipakai tesis mahasiswa saya. Bahkan, lewat internet kita bisa bantu memberi peringatan 3 sebelum kejadian gempa di antara Aceh hingga NTT,” ujarnya.

Cara kerjanya berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon

Sistem yang dikembangkan terdiri dari perangkat EWS yang terdiri dari beberapa komponen seperti pendeteksi perubahan kadar air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, pengontrol, penyimpan data, dan sumber daya. Kemudian, memanfaatkan teknologi internet of things (IoT) di dalamnya.

Sunarno menjelaskan bagaimana alat yang dikembangkan bersama tim ini didasarkan pada perbedaan konsentrasi gas radon dan ketinggian air tanah, yang merupakan anomali alam sebelum gempa.

“Apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik turun secara signifikan,” jelasnya.

Sistem ini terbukti dapat memprediksi gempa di beberapa daerah

Penelitian yang dilakukan sejak tahun 2018 ini dikhususkan untuk mengamati konsentrasi gas radon dan muka air tanah sebelum gempa. Pengamatan yang telah dilakukan kemudian dikembangkan sehingga dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

Bahkan, sistem ini terbukti mampu memprediksi gempa yang terjadi di Bengkulu Barat M 5.2 pada 28 Agustus 2020, Barat Daya Sumur-Banten M5,3 pada 26 Agustus 2020, Barat Daya Bengkulu M5,1  29 Agustus 2020, Barat Daya Sinabang Aceh M5,0 pada 1 September 2020, Barat Daya Pacitan M5,1 10 september 2020), dan gempa Tenggara Nagan Raya-Aceh M5,4 pada 14 september 2020.

You May Also Like

0 komentar