Presiden Jokowi sebut Unhan Berhak Anugerahi Gelar ke Megawati

by - Juli 18, 2021

 

Sumber foto: Istimewa

DIAMOND QQPresiden Joko Widodo (Jokowi) mengucapkan selamat kepada Megawati Soekarnoputri yang dianugerahi gelar profesor kehormatan dari Universitas Pertahanan pada Jumat (11/6/2021).

Mega mulai menyandang status guru besar tidak tetap pada 1 Juni 2021. Namun, Jokowi tidak bisa menyaksikan secara langsung proses penyematan guru besar bagi Mega karena harus melakukan kunjungan kerja ke Purbalingga, Jawa Tengah.

Dalam pesan video yang diputar dalam sidang senat terbuka, Jokowi mengatakan Unhan berhak menganugerahkan gelar kepada Mega.

“Sebab, itu artinya Unhan akan memperoleh arahan, inspirasi, dan bahkan perkuliahan dari Ibu Mega untuk pendidikan dan penelitian tentang kepemimpinan strategis. Materi itu menjadi dasar untuk mengawal kemajuan strategis Indonesia,” kata Jokowi dalam pesan videonya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut Mega memang pemimpin strategis, karena berhasil mengawal reformasi besar-besaran pada 1998. Bahkan, menurut Jokowi, Mega sudah teruji dan konsisten memperjuangkan nasib rakyat kecil.

“Bu Mega secara konsisten memperjuangkan demokrasi dan hak-hak rakyat serta dalam memperjuangkan kedaulatan negara,” ujarnya lagi.

Sebagai bukti bahwa Mega selalu memperjuangkan nasib orang-orang yang kurang mampu, Jokowi mengatakan bahwa presiden kelima Indonesia ini sering bergerak bersama kelas bawah untuk memperjuangkan hak politiknya. Jokowi juga sempat menyinggung sederet kebijakan Mega yang masih terasa hingga saat ini. Apa saja itu?

Jokowi menyebut Mega yang melahirkan KPK melalui UU Nomor 30 Tahun 2002

Dalam sambutannya, Jokowi menyebut beberapa kebijakan yang dibuat di era Megawati, antara lain ekonomi kerakyatan, UU Sistem Jaminan Sosial Nasional, Perppu dan UU Antiterorisme, hingga UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semua itu, kata Jokowi, menunjukkan bahwa Mega adalah pemimpin yang strategis dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.

“Beliau juga terbukti memperjuangkan antikorupsi dan kepentingan nasional lainnya,” kata Jokowi.

Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan Mega sempat lantang angkat bicara dan menyebut KPK lahir di era kepemimpinannya. Jadi, tidak mungkin dia ingin KPK lemah.

Namun, pada 2012 Mega mengaku kecewa ketika KPK justru bentrok dengan institusi besar lainnya, yakni Polri. Menurut Mega, ini merupakan bentuk disfungsional leadership di tingkat nasional.

“Saya yang menandatangani KPK dan adalah gambaran nyata betapa tidak berfungsinya kepemimpinan nasional dan rendahnya kapasitas untuk memimpin,” kata Ketua Umum PDI-P saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDIP di Surabaya pada tahun 2012.

Alih-alih mewujudkan prinsip checks and balances, kata Mega, PDIP justru menemukan kecenderungan untuk saling melemahkan antar lembaga negara.


Mega dipuji sebagai simbol politisi yang tidak takut berada di oposisi

Hal lain yang dipuji Jokowi dari Mega adalah politisi yang tidak takut berada di luar pemerintahan. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa selama 10 tahun, PDI-P memilih menjadi oposisi.

“Sebagai seorang politisi, Ibu Megawati Soekarnoputri sudah memberikan contoh kepada kita semua bahwa menjadi politisi itu tidak harus berada di dalam pemerintahan, menjadi politisi harus siap di dalam pemerintahan dan harus siap berada di luar pemerintahan,” kata Jokowi.

Kini, saat Jokowi berkuasa, PDIP telah menjadi bagian dari pemerintahan selama dua periode.


Unhan mengagumi Mega sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai wakil presiden dan kemudian presiden

Sementara itu, dalam sambutan pembukaannya, Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Prof Amarulla Octavian mengaku takjub karena Mega merupakan wanita pertama di dunia yang berhasil menduduki jabatan wakil presiden pada periode 1999 - 2002. Kemudian, Ia juga berhasil duduk sebagai presiden pada periode 2002 - 2004.

Jika mengacu pada sejarah, Megawati saat itu naik sebagai presiden melalui proses menggantikan Abdurrahman Wahid yang digulingkan dalam sidang istimewa. Mega pernah berlaga di Pilpres yang dipilih langsung oleh rakyat dengan berpasangan dengan Prabowo Subianto pada 2009, namun kalah.

“Di kalangan pemimpin dunia belum ada seorang perempuan dapat menjabat berturut-turut sebagai wakil presiden lalu presiden. Sejarah juga mencatat jarang seorang presiden adalah putri dari presiden sebelumnya,” kata Amarulla yang disusul tepuk tangan hadirin. .

Ia mengatakan Unhan menilai Mega sebagai pemimpin yang berhasil membawa Indonesia keluar dari masa-masa sulit pada tahun 1998. Amarulla juga menyebut gelar doktor honoris causa yang diterima Mega dari beberapa kampus di dalam dan luar negeri, semakin menegaskan fakta bahwa dia pantas untuk diberikan gelar guru besar tidak tetap oleh Universitas Pertahanan.

“Itu merupakan bukti pengakuan akademik atas kepakaran beliau dalam kepemimpinan strategis yang juga terkait bidang pertahanan,” katanya lagi.

You May Also Like

0 komentar